Archive for February, 2009

kakek-kakek debat politik

Thursday, February 26th, 2009

Dua orang kakek renta tiba-tiba membahas politik, gara-gara pakaian satu diantara mereka mengenakan baju caleg. “Waduh, dapat apa lagi kau selain kaos,” tanya Man Buyung, panggilan akrab kakek itu kepada rekan sejawadnya.

“Belum, nanti katanya mau datang ke RW kita,”jawab si Kakek yang saya lupa berkenalan kemarin, Kamis(26/2/09).  Akhirnya debat politik mulai berlangsung. Man Buyung yang gemar membaca koran dan sering mengikuti berita di televisi menggunakan pemikiran realis sementara lawan diskusinya cenderung mengadopsi teori idealis. (Realis Vs Idealis)

Aku yang duduk diantara mereka sengaja diam dan menyimak obrolan menarik itu sambil membuka beberapa website. Benakku meyakinkan inilah suara akar rumput. Bukan di kursi dewan yang terkadang mamaksakan subjektifitas atas dasar objektifitas.

Meski obrolan mereka sederhana namun tampak jelas kekecewaan mereka akan politiasasi para calon maupun elit politik menjelang pesta demokrasi 2009 ini. “Bendera dipasang dimana-mana. Bagi-bagikan kaos, duit, kalender. Kita disuruh memilih, tapi kalau sudah dipilih nanti lupa dia,” kata kakek asal Padang, Sumatera Barat itu. Kakek satu lagi sedikit tersinggung caleg idolanya digeneralisasikan dengan fakta yang ada saat ini. “Kalau yang ini baik orangnya Yung,” celahnya.”Dari mana mengukur kebaikan orang pak. Dia pernah datang ke rumah mu apa. Ngorbrol sama kamu, tanya kekurangan kita. Gak kan. Jadi calon aja gak datang apalagi kalau sudah jadi. Lupa pasti. Gimana rakyat tidak marah kalau kayak gitu,” tepis Man Buyung.

Pemikiran kritis Man Buyung akhirnya membuka wawasan lawan bicaranya, meski kaos yang dipakainya tidak langsung dilepas. Man Buyung adalah seorang penjaga srabutan di kantor Dinas Kesehatan di Kota Singkawang. Kerjanya diminta untuk foto kopi, menyapu, bikin minuman dan pekerjaan-pekerjaan kasar lainnya. Namun kecintaanya akan negara tidak bisa disejajarkan oleh para pejabat korup. Keprihatinannya itulah yang menjunjung martabat dia dibanding para caleg yang dari kaca mata ku tidak qualified.

Apakah menjadi tidak wajar ketika Man Buyung memilih golput?? Haramkah itu? Lalu, jika suara yang ia sumbangkan justru menjerumuskan bangsa dan negara bagimana? apakah itu justru lebih berdosa?                                                                                    Sikap Man Buyung bukan lagi pragmatis tetapi sudah memicu ke apatis terhadap politik dan demokrasi di Indonesia. Ia hanya jenuh dan jengkel melihat keadaan saat ini, dimana orang-orang berlomba-lomba memamerkan dirinya bak artis yang tengah mencari popularitas di masyarakat. Sementara kompetensinya minim.

Perlu dikaji apakah apatisme tersebut menular? JIka iya aku memasukannya kedalam penyakit jenis akut. Bayangkan ketika  terjadi apatis masal. Dimana masyarakat tidak lagi percaya dan cuek akan negaranya sendiri. Ini yang hingga saat ini belum menjadi bahan kampanye bagi para caleg maupun para kader parpol. Mereka melanjutkan tradisi-tradisi iming-iming atau janji-janji jelang pemilu.  Membeli suara rakyat dengan cara menyelinap.

Obat dari penyakit akut apatis adalah menyuguhkan sistem dan kader yang jelas juntrungnya. Berikan kontrak politik sebagai jaminan dan selalu memegang konsistensi dan integritgritas setelah naik nanti.
Ingat..!!! vox populi vox dei (The voice of the people is the voice of God)….jangan macam-macam dengan suara tuhan!