Archive for May, 2009

Emang Kenapa Kalo Teknokrat?

Wednesday, May 6th, 2009

Memalukan ketika kekuasaan hanya dalih untuk merebut kekuasaan pamilu berikutnya. Dan alangkah piciknya jika para elit partai hanya mengejar gengsi dalam pertarungan pesta demokrasi. Berunjuk kekuasaan dan bualan program berkonsep revolusioner. Ini dada ku, mana dada mu. Tidak ada kamus seperti itu di panggung politik. Opsi SBY melirik teknokrat, subjektif saya karena SBY memandang pentingnya memikirkan bangsa ini kedepannya, dan bukan hanya untuk “rebutan” kekuasaan para politisi jika boleh saya katakan busuk. Sebagai cermin, di akhir pemerintahan SBY-JK masing-masing perahu politiknya saling tabrak dan saling menjerumuskan ke karang dangkal. Partai lainnya meniup angin dari pertempuran itu dengan tujuan keduanya karam. Namun begitu pantai daratan sudah mulai terlihat, mereka kembali berpura-pura baik, dengan harapan kekayaan yang ada di pantai bisa di bagi rata. Serakahnya politik di negeri ini. Walau  belum menepi ke pantai parpol sudah perang dingin dan saling ancam. Koalisi terpaksa pun di galang untuk memperkuat pertahanan. Innalillahi wa inailaihi rojiiun, wafatkah pikiran jernih nakoda-nakoda kapal politik itu?
Masuk dalam topik perlawanan dan ancaman dengan tema SBY meminang wakil presiden dari kalangan teknokrat. Kalangan profesional jelas lebih independen dan tidak ada kepentingan untuk partainya(untuk kalangan tertentu bisa jadi). Carut marut ekonomi selalu menjadi biang kriminal, gejolak sosial, wabah penyakit dan selalu membawa kesengsaraan bagi kaum kecil. Beruntung dua nama yg muncul sebagai calon pendamping adalah dari Bank Indonesia yang pro kepada ekonomi kerakyatan dan paham betul akan ekonomi kelas teri. Kekhawatiran lemahnya legitimasi politik wajar, namun opini publik bisa dibentuk dengan keberhasilan menjalankan roda pemerintahan yang telah diamanahkan. Ini peluang yang cukup besar untuk bisa menarik kalangan profesional non partai menjadi wakil presiden di tengah luar biasa besarnya pamor SBY. Nama SBY seperti sudah menjadi “obat” bagi orang-orang yang “sakit”. Untuk di kalangan parlemen, angap sebagai mitra dan jg oposan. Namun memang harus sabar, karena para politisi kita masih banyak berpikir menggunakan nafsu dari pada analisa logis serta realita yang ada.Mereka(politisi busuk) hanya main gasak sana-gasak sini mencari kelemahan rival dengan amunis titipan dari partai mereka. Semua berbau kepentingan. INGAT PEMILU UNTUK INDONESIA YANG LEBIH BAIK.BUKAN UNTUK KEMENGANGAN DAN KEJAYAAN PARTAI DAN GOLONGAN SEMATA. INTEROPEKSILAH WAHAI PARA POLITISI.
(M. Wira Adibrata)

wira_adhie@yahoo.co.id

FB/email : mwadibrata@gmail.com